Suryalaya, 13 Agustus 2025 – Pusat Bahasa Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya menggelar Workshop Kurikulum Bahasa Transformatif di Ruang Dosen IAILM. Acara ini dibuka langsung oleh Rektor, serta dihadiri jajaran pimpinan, dosen, dan para pengampu mata kuliah bahasa. Selain itu, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan mutu pembelajaran bahasa di lingkungan kampus.
Dalam sambutannya, Rektor IAILM, Dr. H. Asep Salahudin, M.Ag, menegaskan bahwa mata kuliah bahasa memiliki posisi strategis di IAILM, dengan jumlah SKS terbanyak kedua setelah tasawuf. Oleh karena itu, kurikulum bahasa harus inklusif, tidak dogmatis, terbuka terhadap kritik, dan menghargai perbedaan perspektif.
“Bahasa bukan hanya materi akademik, tetapi sarana untuk menerjemahkan nilai tasawuf ke dalam praktik nyata, bukan sekadar klaim,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya dokumentasi seluruh proses workshop sebagai panduan pengembangan di masa depan.
Sementara itu, Kepala Pusat Bahasa, Cecep Moch Ramli Al-Fauzi, M.Ag, memaparkan urgensi revisi kurikulum bahasa yang adaptif terhadap karakter Generasi Z. Menurutnya, metode lama kurang relevan bagi mahasiswa saat ini. Karena itu, perlu penyempurnaan pada materi, indikator, tujuan, dan metode pembelajaran. Ia juga menekankan pentingnya kontekstualisasi ilmu nahwu dan shorof agar aplikatif dalam komunikasi nyata.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa pendekatan komunikatif, interaktif, dan mediatif dipandang efektif untuk mengasah keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Arab maupun Inggris, sambil memadukannya dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Di sisi lain, Wakil Rektor I, Dr. Muhamad Kodir, M.Si., menegaskan bahwa arah kebijakan kurikulum bahasa di IAILM berciri transformatif dan sufistik.
“Bahasa adalah cermin jiwa, membentuk cara berpikir, merasa, dan terhubung dengan Tuhan serta sesama,” ungkapnya.
Selain itu, kurikulum bahasa harus menghidupkan nilai-nilai TQN Suryalaya—adab, cinta, dan kearifan—serta membekali mahasiswa dengan kompetensi multibahasa yang siap bersaing di era global.
Kebijakan tersebut mencakup integrasi nilai tasawuf, pemanfaatan teknologi pembelajaran digital, pengayaan materi dari teks-teks TQN Suryalaya, serta orientasi multikultural. Dengan demikian, lulusan diharapkan tidak hanya fasih berbahasa, tetapi juga memahami makna, bijak berkata, dan peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Akhirnya, workshop ini menjadi momentum sinergi antara visi akademik, spiritualitas tasawuf, dan inovasi pedagogis. Hasilnya diharapkan menjadi pijakan strategis bagi IAILM untuk terus menjadi pionir pendidikan bahasa yang mendidik akal, hati, dan jiwa.




