Suryalaya, 22 Desember 2025; Para mufasirin dan ahli Sejarah ( Prof. Dr. Muhammad Ali as Shalabi, Prof. Dr. Muhammad Sameh Said, Muhammad Sang Yatim dalam buku Sirah Nabawiyah-nya dan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, Pada bulan Rojab 1448 tahun hijriah yang lalu atau sekitar 1.402 tahun masehi yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Rajab bersamaan dengan waktu satu tahun menjelang hijrahnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang pada waktu itu usia kenabian Beliau 13 tahun terjadi kejadian yang luar biasa, yaitu Isro dan Mi’raj yang mana hasilnya menjadi landasan yang fundamental untuk kita sebagai umatnya dalam pelaksanaan beribadah kepada Allah Swt. Khususnya shalat lima waktu.
Kejadian Isro Mi’raj ini diabadikan dalam Alquran Surat Al Isro ayat 1;
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra‘: 1).
Dari ayat tersebut ada dua kejadian yang sangat fenomenal yaitu Isro dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dipandu oleh Malaikat Jibril.
Isro
Isro adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Harom yang ada di Mekah ke Masjidil Aqso yang ada di Palestina. Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir menjelaskan, isra (اسرى) atau sara (سرى) artinya adalah perjalanan di malam hari. Secara istilah, isra’ adalah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada suatu malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sedangkan Mi’raj adalah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqso yang ada di Palestina ke Sidratul Muntaha di langit paling Atas (Sidratul Muntaha).
Perjalanan Isro diawali dengan pembedahan hati Nabi Muhammad SAW oleh Malaikat Jibril; Usai shalat isya’ dan beristirahat sejenak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang saat itu berbaring di Masjidil Haram kedatangan tamu malaikat Jibril. Lantas, malaikat Jibril membelah dada beliau. “Lalu hatiku dikeluarkan dan dicuci dengan air zamzam kemudian dikembalikan ke tempatnya dan memenuhinya dengan iman dan hikmah,” sabda beliau dalam riwayat Imam Bukhari dari Malik bin Sha’sha’ah. Setelah itu datanglah buraq yang menjadi kendaraan beliau sewaktu isra. Buraq satu akar kata dengan barq yang artinya kilat. “Didatangkan kepadaku Buraq –yakni seekor tunggangan berwarna putih, tinggi, lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal, ia meletakkan langkahnya sejauh pandangannya,” sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Muslim dari Anas bin Malik. Setelah itu Nabi Muhammad dan Malaikat Jibril berjalan dengan menungganggi buraq menuju Masjid Al Aqso di Palestina. Dalam perjalanan menuju Mesjidil Aqso Nabi Muhammad diperlihatkan oleh Allah SWT beberapa perbuatan manusia yang sedang di ajab oleh Allah Swt di alam ghaib ;
Pertama, orang-orang yang gemar bersedekah. Nabi melihat golongan ini sering memanen tanaman yang baru ia tanam. Setelah dipanen, tanaman tersebut tumbuh kembali. Begitupun seterusnya sehingga hasil panen mereka melimpah ruah. Mereka adalah orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Allah akan mengganti semua hal yang diinfakkan di jalan-Nya.
Kedua, orang-orang yang senantiasa berpegang teguh pada agama Allah. Ketika itu, Nabi mencium bau harum. Ketika ditanyakan kepada Jibril, bau harum tersebut berasal dari keluarga besar Masyitah yang dimasak hidup-hidup oleh Fir‘aun karena tidak mau mengakuinya sebagai Tuhan.
Ketiga, orang yang malas mengerjakan shalat fardhu. Saat itu, Nabi melihat sekelompok orang yang kepalanya pecah dan utuh Kembali secara berulang-ulang. Nabi begitu iba melihatnya. Jibril menjelaskan kepadanya, bahwa mereka adalah orang-orang yang kepalanya berat untuk melaksanakan shalat fardhu sehingga urung menunaikannya. Itulah siksaan yang akan diterima oleh orang-orang yang malas melaksanakan kewajiban shalat fardhu di hari pembalasan nanti.
Keempat, orang-orang yang enggan bersedekah. Mereka tampak oleh Nabi tengah memakan pohon dhari‘ (pohon kering dan berduri), zaqqum (tumbuhan yang rasanya pahit) dan batu yang panas.
Kelima, Nabi juga melihat pezina yang lebih memilih wanita lain di luar istrinya sendiri. Kelompok orang ini digambarkan pada saat itu seperti orang yang menggenggam daging empuk dan daging busuk. Namun orang-orang itu memilih memakan daging busuk dari pada daging empuk yang dibawanya. Orang-orang ini, menurut Jibril, adalah orang yang lebih memilih tidur dengan perempuan lain padahal ia memiliki istri yang sah.
Keenam kelompok yang dilihat Nabi dalam perjalanan itu adalah para perampok atau pembegal. Nabi Muhammad saw melihat golongan ini seperti kayu yang berada di tengah jalan. Saat ada orang yang melewati jalan tersebut, orang itu terbakar karena kayu itu.
Ketujuh yang Nabi lihat adalah orang yang memakan harta riba. Nabi Muhammad saw menyaksikan perumpamaan golongan ini seperti orang yang berenang di sungai yang penuh darah.
Kedelapan, Orang yang rakus jabatan menjadi kelompok ini, dimana Nabi Muhammad saw lihat dalam perjalanannya banyak orang yang memikul kayu bakar di pundaknya. Orang-orang yang termasuk golongan ini masih terus menambah kayu bakar yang dipikulnya walaupun sebenarnya mereka tidak kuat memikulnya.
Kesembilan adalah para dai yang tidak mengamalkan ucapannya. Para dai ini dilihat oleh Nabi seperti sekelompok orang yang lidah dan mulut mereka dipotong dengan menggunakan gunting besi. Setelah dipotong, mulut dan lidah mereka tumbuh seperti semula dan dipotong lagi. Peristiwa itu perumpamaan bagi para dai yang hanya mampu ceramah dan berorasi namun tidak mampu mengamalkan ceramahnya untuk diri sendiri.
Kesepuluh yang Nabi Muhammad saw lihat dalam perjalanan Isra’ . adalah golongan orang yang berkuku panjang dan terbuat dari tembaga. Mereka mencakar-cakar muka mereka dengan kuku tersebut. Menurut Jibril, mereka adalah orang-orang yang mengumpat perbuatan orang lain, tetapi mereka melakukan perbuatan tersebut.
Kesebelas adalah provokator. Ketika itu Nabi Muhammad saw melihat seekor sapi yang keluar dari sebuah lubang kecil. Namun, sapi itu tidak mampu kembali masuk ke lubang tersebut karena terlalu besar. Menurut Jibril, hal itu adalah perumpamaan bagi umat Nabi Muhammad yang melakukan provokasi sehingga menimbulkan masalah yang besar. Saat tersadar akan ulahnya, ia tidak mampu menyelesaikan masalah besar tersebut.
Keduabelas, adalah kelompok orang yang suka memakan barang hasil riba yaitu perutnya membesar dan dipenuhi oleh ular.
Ketiga belas adalah kelompok orang sedang berenang sambil memakan batu Sungai, ini adalah kelompok orang yang suka memakan barang/harta anak yatim.
Keempat belas, orang yang sedang berenang di Sungai darah yaitu kelompok orang yang suka minum khamr (miras).
Setiba di Masjidil Aqsa, beliau shalat dua rakaat, mengimami ruh para Nabi. Usai shalat dan keluar dari Masjid Al Aqsa, Malaikat Jibril datang membawa dua wadah minuman. Satu berisi susu dan satu lagi khamar. Rasulullah pun memilih susu. “Sungguh engkau telah memilih kesucian,” kata Jibril dalam lanjutan hadits tersebut.
Mi’raj
Mi’raj pun bermula. Rasulullah naik buraq bersama Jibril hingga tiba di langit pertama. Mari kita simak kisah beliau dalam hadits yang panjang, lanjutan dari hadits Shahih Bukhari dari Malik bin Sha’sha’ah di atas;
“Lalu aku dibawa di atas punggung Buraq dan Jibril pun berangkat bersamaku hingga aku sampai ke langit dunia lalu dia meminta dibukakan pintu langit. Dia ditanya, “Siapakah ini?” Ia menjawab, “Jibril.” “Siapakah yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah dia telah diutus?” “Dia telah diutus.” Kami pun dibukakan pintu, lalu aku bertemu Nabi Adam ‘alaihis salam. Ia menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit kedua. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit kedua. Ketika pintu langit kedua terbuka, Rasulullah bertemu dua sepupunya yakni Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria ‘alaihimassalam. Maka, keduanya menyambut Rasulullah dan mendoakan kebaikan untuk beliau.
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit ketiga. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit ketiga. Ketika pintu langit ketiga terbuka, Rasulullah bertemu Nabi Yusuf ‘alaihis salam yang Allah memberinya setengah ketampanan manusia sejagat. Maka, Nabi Yusuf menyambut Rasulullah dan mendoakan kebaikan untuk beliau.
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit keempat. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit keempat. Ketika pintu langit keempat terbuka, Rasulullah bertemu Nabi Idris ‘alaihis salam. Maka, Nabi Yusuf menyambut Rasulullah dan mendoakan kebaikan untuk beliau. Allah telah berfirman untuk Nabi Idris, “dan kami telah mengangkatnya ke tempat yang tinggi.”
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit kelima. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit kelima. Ketika pintu langit kelima terbuka, Rasulullah bertemu Nabi Harun ‘alaihis salam. Maka, Nabi Harun menyambut Rasulullah dan mendoakan kebaikan untuk beliau.
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit keenam. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit keenam. Ketika pintu langit keenam terbuka, Rasulullah bertemu Nabi Musa ‘alaihis salam. Maka, Nabi Musa menyambut Rasulullah dan mendoakan kebaikan untuk beliau.
Kemudian Buraq tersebut naik bersama Rasulullah dan Jibril ke langit ketujuh. Terjadi dialog serupa antara Jibril dengan penghuni langit ketujuh. Ketika pintu langit ketujuh terbuka, Rasulullah bertemu Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang sedang menyandarkan punggungnya di Baitul makmur. Setiap harinya, 70.000 malaikat masuk ke sana dan mereka tidak kembali lagi sesudahnya.
Kemudian Buraq tersebut pergi bersamaku ke sidratul muntaha yang lebar daun-daunnya seperti telinga gajah dan besar buah-buahnya seperti tempayan besar. Tatkala perintah Allah memenuhi sidratul muntaha, sidratul muntaha berubah dan tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang bisa menjelaskan sifat-sifat Sidratul Muntaha karena keindahannya. Maka, Allah memberiku wahyu dan mewajibkan kepadaku sholat 50 kali dalam sehari semalam. Kemudian aku turun dan bertemu Musa lalu ia bertanya, “Apa yang Rabbmu wajibkan terhadap umatmu?” Aku menjawab, “Sholat 50 kali.” Musa berkata, “Kembalilah kepada Rabbmu, mintalah keringanan karena sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu. Sesungguhnya aku telah menguji Bani Israel dan aku telah mengetahui bagaimana kenyataan mereka.” “Aku akan kembali kepada Rabbku.” Lalu aku memohon, “Ya Rabb, berilah keringanan kepada umatku.” Aku diberi keringanan lima sholat. Lalu aku kembali kepada Musa ‘alaihis salam. Aku berkata kepadanya, “Allah telah memberikan keringanan lima kali.”
Musa mengatakan, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu melakukan hal itu, maka kembalilah kepada Rabbmu dan minta keringanan. ” Aku terus bolak-balik antara Rabbku dengan Musa hingga Rabbku berfirman, “Wahai Muhammad sesungguhnya kewajiban sholat itu lima kali dalam sehari semalam. Setiap sholat mendapat pahala 10 kali lipat, maka 5 kali sholat sama dengan 50 kali sholat. Barangsiapa berniat melakukan satu kebaikan yang dia tidak melaksanakannya maka dicatat untuknya satu kebaikan. Dan jika ia melaksanakannya, maka untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa berniat melakukan satu kejelekan namun dia tidak melaksanakannya maka kejelekan tersebut tidak dicatat sama sekali. Dan jika ia melakukannya, maka dicatat sebagai satu kejelekan.” Kemudian aku turun hingga bertemu Musa lalu aku beritahukan kepadanya. Maka ia mengatakan, “Kembalilah kepada Rabbmu dan mintalah keringanan lagi. ”Aku menjawab, “Aku telah berulang kali kembali kepada Rabbku hingga aku merasa malu kepadaNya.”
Bagi kita mahasiswa IAILM Suryalaya , Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah perjalanan ruhani universal (suluk) yang mengandung simbol-simbol (isyari) mendalam, relevan dengan perjalanan seorang salik (penempuh jalan spiritual) menuju Allah SWT. Berikut hikmahnya dalam kerangka thariqah;
Hikmah Isro Mi’raj
Untuk kita sebagai pengamal tarekatIsra’ Mi’raj itu sebagai “Prototipe” Perjalanan Sufi (Suluk), untuk itu mari kita analisis dari setiap langkah yang diriwayatkan tersebut :
Dari Masjidil Haram (Isra’) :
Pembelahan dada dan pembersihan hati merupakan tazkiyatun nafs, yang kita peroleh melalui talqin dzikir (dzikir zahar merupakan pembelahan dada melalui ucapan la ilaha ilallah dari bawah pusar hingga kekepala, dan dzikir khofi yaitu pemberian iman dan hikmah).
Bila hatinya sudah bersih maka akan tersingkap hal-hal yang ghoib (mukasyafah) sebagaimana Nabi Muhammad melihat amal perbuatan manusia dan hukumannya.
Di Mesjidil Aqsa
Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat dan menjadi imam untuk seluruh Nabi, hal ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin para Nabi dan Rusulullah.
Nabi diuji oleh malaikat Jibril untuk memilih minuman, hal ini menandakan bahwa dalam setiap perjalan suluk pasti ada cobaannya yang mana kita harus teliti, hati-hati, serta bijaksana dalam setiap gerak gerik kehidupan.
Dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha (Mi’raj):
Perjalan dari masjidil Aqso menuju Sidratul Muntaha melewati tujuh langit, artinya perjalanan vertikal dari hati yang suci menuju puncak pertemuan (liqa’) dengan Allah melewati beberapa tahapan (maqomat) yang mesti dilewati oleh seorang yang suluk. Pertemuan dengan ruh para Nabi melambangkan penyempurnaan akhlak dan integrasi syariat. Setiap Nabi membawa misi khusus; perjalanan suluk harus mencakup kesempurnaan syariat (Muhammad), ketulusan (Ibrahim), kesabaran (Ayyub), dan lain-lain seperti dilambangkan dalam tujuh Latifah.
Sampai di Sidratul Muntaha, Tujuan akhir suluk /maqomat dalam TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah ma’rifatullah (mengenal Allah Swt.) sedekat dekatnya melalui sanad Mursyid.
Mendapat tugas melaksanakan shalat 5 waktu dalam sehari semalam, hal ini menandakan bahwa melaksanakan shalat lima waktu itu sebagai miniatur mi’raj harian yang pelaksanaannya harus dikhusyukan dan menguatkan kedisiplinan, serta menghayati setiap gerakan shalat sebagai perjalanan ruhani: takbiratul ihram (meninggalkan dunia), berdiri di hadapan Allah (munajat), sujud sebagai puncak kedekatan
Isra’ Mi’raj terjadi dengan bimbingan langsung Jibril (sebagai pembimbing/wali). Ikhwan harus meneladani ketaatan total Nabi pada bimbingan ini, yang harus tercermin dalam ketaatan pada Mursyid dalam bimbingan suluk.
Kata Pangersa Abah Anom dalam kuliah subuhnya, mikraj artinya naik atau meningkat. Jadi kita harus ada peningkatan amal. Misalkan bangun malam biasa jam 4, maka harus ditingkatkan jadi 3.30. Jadi ada peningkatan amaliyah. Biasanya tidak puasa hari senin kamis, sekarang kita tingkatkan dengan berpuasa sunat hari senin kamis.
Kesimpulan
Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa:”Perjalanan terbesar adalah perjalanan ke dalam diri (Isra’), untuk kemudian naik menghadap Allah (Mi’raj) dengan kendaraan mahabbah, bimbingan Mursyid, dan disiplin syariat (shalat). Hasilnya bukan pelarian, tetapi kembali ke dunia dengan misi transformasi spiritual dan sosial.”
Bagi TQN Suryalaya yang menekankan “Ibadah, Mu’amalah, dan Akhlak”, Isra’ Mi’raj adalah fondasi: Ibadah (shalat sebagai mi’raj), Akhlak (penyucian jiwa selama Isra’), dan Mu’amalah (kembali membawa cahaya untuk umat).
Semoga kita semua diberi kekuatan untuk menempuh ‘Isra’ Mi’raj ruhani’ kita masing-masing, istiqamah dalam suluk, dan sampai kepada ma’rifatullah yang haq. Aamiin YRA…. Wallahu a’lam bish-shawab … (Dr. Wawan, MSI.).



