Tanjungkerta, Kec. Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46158 iailm@iailm.ac.id
Berita 4 menit 08 December 2025

SAPA PAI 2025 REKATKAN KEBERSAMAAN YANG KOLABORATIF, INOVATIF, DAN INSPIRATIF

Agustian

Agustian

Redaksi & Tim Publikasi

Suryalaya, 06 Desember 2025; Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAILM Suryalaya melaksanakan kegiatan rutin tahunan SAPA (Silaturahmi Awal Penuh Arti) dengan tema, “Rekatkan Kebersamaan yang kolaboratif, inovatif, dan inspiratif”, dalam upaya membekali 120 mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) agar sukses secara pribadi, organisasi, dan institusi yang dilaksanakan di Gedung Tarminah Bakti IAILM Suryalaya. Kegiatan ini menurut wakil rektor bidang kemahasiswaan (Dr. Wawan, MSI.) memiliki tiga poin penting yaitu kolaboratif, inovatif, dan inspiratif yang merupakan trias sinergi organisasi. Mahasiswa harus mampu bekerja sama dan saling mengisi (kolaboratif), berani mencoba cara baru (inovatif), dan saling memotivasi untuk tumbuh (inspiratif). Ketiga unsur itu saling terkait dan merupakan siklus; kolaborasi akan menghasilkan inovasi, dan inovasi akan menghasilkan inspirasi, begitu pula inspirasi akan menghasilkan kolaborasi yang mendalam dan seterusnya. Bila dikaitkan dengan tatanan budaya Sunda ketiga istilah itu disebut dengan Ngahiji dina raraga, nagara dina rasa, ngara dina basa(bersatu dalam tindakan, selaras dalam perasaan, mulia dalam perkataan).

 Ngahiji dina raraga; bersatu dalam tindakan yaitu prinsip hidup masyarakat Sunda yang memiliki hubungan timbal balik antara silih asah (saling mempertajam/mengasah potensi) sebagai proses menyempurnakan kemamampuan Bersama), silih asih (saling mengasihi sebagai landasan emosional), dan silih asuh (saling memelihara sebagai landasan tanggung jawab kolektif). Beberapa perlakuan orang sunda yang mencerminkan ketiga hal tersebut yaitu melaksanakan pekerjaan secara gorong royong (suatu nilai, prinsip, dan praktik sosial budaya masyarakat Indonesia yang mengedepankan kerja sama, kebersamaan, dan tolong-menolong secara sukarela untuk mencapai suatu tujuan bersama atau menyelesaikan masalah bagi kepentingan komunitas), babarengan (bersama-sama menyelesaikan pekerjaan besar dengan membagi peran sesuai dengan keahliannya), serta liliuran (bergiliran/sistem rotasi dalam menjaga kepentingan umum).

Nagara dina rasa (selaras dalam perasaan) dalam budaya sunda bukan revolusi melainkan evolusi yang berakar, sehingga ada istilah ngamumule karuhun tapi teu katinggaleun jaman (memuliakan leluhur tapi tidak ketinggalan zaman) sehingga para mahasiswa tidak kudet (kurang update) tetapi menjadi sosok yang melaksanakan perubahan dengan tetap miindung ka waktu mibapa ka jaman (sesuai dengan perkembangan zaman). Dalam hal ini masyarakat Sunda senantiasa ngaropea (memperbaiki/menyempurnakan bukan membuang yang lama) serta ngolah (mengolah sumber daya yang ada menjadi lebih bernilai).

Ngara dina basa (mulia dalam perkataan); perkataannya selalu baik dan senantiasa memberikan tauladan yang berkelanjutan/inspiratif. Dalam mengamalkannya orang Sunda mengacu kepada falsafah hirup ibarat cai herang (hidup seperti air jernih) yang senantiasa memberikan tauladan dengan hidup sederhana dan mencerminkan kejernihan hati (caang bulan opat belas bersih jalan sasapuan). Bila hal ini sudah terimplementasikan dalam kehidupan maka akan terbentuk mahasiswa yang cageur, bageur, bener, pinter, tur singer (sehat, baik, benar, pintar, cekatan). Perilaku yang tercermin dari ngara dina basa adalah someah yaitu ramah dalam penerimaan, tidak memandang kelas dan stratifikasi masyarakat, siapapun orangnya dihadapi sama dengan ramah. Falsafah sunda yang  lain terkait  inspiratif ini adalah Moang larang ti inyana (lebih berharga dari emas) yaitu inspirasi dalam menjaga martabat dan harga diri dengan kerja keras dan kejujuran. Dimana nilai kejujuran ini lebih berharga daripada emas.

Bila dimetaphorakan trias sinergi organisasi tersebut mahasiswa PAI adalah sebuah orkestra dan mozaik. Orkestra karena setiap alat berbeda (kolaboratif, ngahiji dina raraga) menciptakan harmoni baru (inovatif, nagara dina rasa), dan menghadirkan emosi yang menggerakan (inspiratif, ngara dina basa), Bagai mozaik karena setiap keping unik (individu) ditempatkan bersama (kolaboartif, ngahiji dina raraga) membentuk gambar besar yang indah dan tak terduga (inovatif dan inspiratif, nagara dina rasa, ngara dina basa).

Perlu dingat juga sebagai pendukung dalam pelaksanaan trias sinergi organisasi tersebut,”Kebersamaan bukan tentang keseragaman, tetapi tentang kesatuan dalam keragaman pikiran. Dengan kolaborasi, kita satukan potongan puzzle. Dengan inovasi, kita ciptakan gambar yang belum pernah ada. Dengan inspirasi, kita beri alasan untuk terus berkarya dan mengajak orang lain bergabung dalam visi dan misi PAI IAILM Suryalaya .”

BAGIKAN: