Tanjungkerta, Kec. Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46158 [email protected]
Berita 10 menit 21 October 2026

Dari Tangier ke China: Ibn Battuta, Sang Penjelajah Muslim yang Menghubungkan Tiga Benua dan 38 Negara

admin

admin

Redaksi & Tim Publikasi

TANGIER, MAROKO Di sebuah ruang pameran Museum Ibn Battuta di Tangier, sebuah peta besar menampilkan jalinan perjalanan yang melintasi Afrika, Eropa, dan Asia. Garis-garis yang saling bersilangan menggambarkan perjalanan panjang seorang Muslim asal Maroko yang meninggalkan tanah kelahirannya pada abad ke-14, menempuh perjalanan menuju Makkah, kemudian menjelajahi berbagai pusat peradaban dari Afrika Utara hingga China dan kepulauan Samudra Hindia.

Panel pameran yang menampilkan durasi perjalanan dan jumlah negara yang dikunjungi.
Panel pameran yang menampilkan patung dan lukisan Ibn Battuta.
Sumber foto: dokumentasi pribadi penulis, Tangier, 17 Oktober 2026

Tokoh Ulama besar itu adalah Ibn Battuta, yang dikenal sebagai salah satu penjelajah terbesar dalam sejarah dunia. Kisahnya bukan semata-mata cerita tentang seseorang yang menempuh jarak jauh. Perjalanannya juga membuka jendela untuk memahami bagaimana agama, perdagangan, pengetahuan, kekuasaan, dan hubungan antarmasyarakat membentuk dunia yang saling terhubung jauh sebelum munculnya pesawat, internet, dan komunikasi digital.

Kunjungan ke museum di kota kelahirannya menghadirkan pertanyaan yang relevan bagi dunia sekarang: bagaimana seorang pengelana dari Maroko dapat menjumpai masyarakat Muslim di Asia Selatan, Maldives, Nusantara, hingga China? Apa yang membuat hubungan lintas wilayah itu mungkin terjadi? Dan bagaimana warisan perjalanan tersebut berkontribusi terhadap pemahaman kita mengenai hubungan Islam dengan Eropa dan Asia?

Pertanyaan-pertanyaan ini membawa Ibn Battuta melampaui statusnya sebagai tokoh sejarah. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami Islam sebagai tradisi keagamaan yang hidup melalui mobilitas manusia, perjumpaan budaya, dan pertukaran pengetahuan.

Berangkat dari Tangier: Perjalanan yang Bermula dari Ibadah

Ibn Battuta lahir di Tangier pada 1304, ketika Maroko berada di bawah kekuasaan Dinasti Marinid. Ia berasal dari keluarga Berber yang hidup dalam lingkungan masyarakat Muslim. Pendidikan agama dan pengetahuan hukum Islam menjadi bagian penting dari latar belakangnya. Pada 1325, ketika berusia sekitar 21 tahun, ia meninggalkan Tangier dengan tujuan awal menunaikan ibadah haji ke Makkah.

Pada masa itu, ibadah haji bukan hanya perjalanan spiritual individual. Perjalanan menuju Makkah juga membuka peluang bertemu ulama, mempelajari tradisi hukum Islam, menjalin hubungan sosial, dan memperoleh akses ke pusat-pusat perdagangan serta pendidikan. Para musafir dapat memperoleh tempat tinggal melalui jaringan keagamaan dan patronase penguasa, meskipun perjalanan tetap menghadirkan risiko penyakit, perampokan, kecelakaan, dan konflik politik.

Bagi Ibn Battuta, perjalanan menuju Makkah justru menjadi awal petualangan panjang. Ia melintasi Afrika Utara menuju Mesir dan kawasan Syam, kemudian menunaikan ibadah haji. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Irak, Persia, Semenanjung Arab, Afrika Timur, Asia Tengah, India, dan berbagai wilayah lainnya.

Catatan perjalanannya dikenal dengan nama Rihla, yang memiliki judul lengkap Tuhfat al-nuzzar fi ghara’ib al-amsar wa ‘aja’ib al-asfar. Karya ini disusun berdasarkan penuturan Ibn Battuta yang dituliskan oleh sarjana bernama Ibn Juzayy atas perintah penguasa Maroko. Penyusunannya berlangsung sekitar 1354-1355. Dengan demikian, Rihla bukanlah buku harian yang ditulis setiap hari selama perjalanan, melainkan narasi retrospektif yang juga dibentuk oleh proses penyuntingan sastra.

Memahami perbedaan ini penting. Rihla merupakan sumber sejarah yang sangat berharga, tetapi tidak semua detail perjalanan dapat diterima tanpa pemeriksaan kritis. Sejumlah kronologi, jarak, dan identifikasi tempat masih diperdebatkan oleh para peneliti. Keistimewaannya justru terletak pada kemampuannya memberikan gambaran tentang bagaimana seorang Muslim abad pertengahan memahami masyarakat yang ditemuinya. Terlebih Ibn Batuta juga memahami kondisi sosial-budaya masyarakat yang dia singgahi.

Dua foto yang diambil di ruang pameran memperlihatkan cara perjalanan Ibn Battuta dikomunikasikan kepada pengunjung masa kini.

Foto pertama menampilkan peta besar yang dipenuhi garis-garis saling bersilangan. Di dalamnya terlihat nama sejumlah kota dan kawasan, antara lain Tangier, Marrakesh, Baghdad, Delhi, Calicut, Guangzhou, serta wilayah yang berkaitan dengan kekuasaan Mongol. Garis-garis tersebut mengubah perjalanan seorang individu menjadi gambaran visual tentang keterhubungan geografis dunia abad pertengahan.

Foto kedua memperlihatkan tiga informasi utama dalam bahasa Prancis: Départ du voyage (awal perjalanan), Durée du voyage (durasi perjalanan), dan 38 pays visités (38 negara dikunjungi). Panel tersebut menyebut tahun 1325 sebagai awal perjalanan dan 29 tahun sebagai durasi penjelajahannya.

Angka-angka itu harus dibaca sesuai konteks pameran. Istilah “38 negara” merupakan cara modern untuk merangkum perjalanan ke berbagai wilayah. Pada abad ke-14, batas negara tidak sama dengan sistem negara-bangsa masa kini. Karena itu, angka tersebut tidak boleh dipahami sebagai daftar 38 negara berdaulat dengan batas teritorial seperti sekarang. Sumber-sumber modern juga memberikan estimasi jumlah wilayah, negara modern, dan jarak tempuh yang berbeda-beda.

Peta tersebut juga menunjukkan bahwa perjalanan Ibn Battuta tidak berlangsung melalui satu jalur lurus. Ia berulang kali kembali ke sejumlah wilayah, berganti moda transportasi, mengikuti rombongan dagang atau perjalanan laut, dan menyesuaikan diri dengan perubahan politik. Jalurnya dibentuk oleh kesempatan, hubungan personal, kebutuhan ekonomi, dan jaringan patronase.

Dengan demikian, peta museum bukan sekadar dekorasi sejarah. Ia dapat dibaca sebagai representasi visual tentang bagaimana hubungan sosial memungkinkan manusia bergerak melewati jarak geografis yang sangat jauh.

Bertemu Ulama, Hakim, dan Penguasa: Jaringan Pengetahuan Dunia Islam

Salah satu aspek penting perjalanan Ibn Battuta adalah perjumpaannya dengan tokoh-tokoh agama dan politik. Ia bukan hanya pengamat yang mencatat tempat-tempat baru, tetapi juga seorang Muslim terdidik yang berusaha mendapatkan kedudukan melalui keahlian hukum, hubungan dengan ulama, dan dukungan para penguasa.

Dalam perjalanan ke berbagai pusat Islam, ia berinteraksi dengan hakim, ahli hukum, guru agama, pemimpin sufi, dan penguasa lokal. Hubungan tersebut memberinya akses terhadap lingkungan sosial yang mungkin sulit dijangkau seorang pelancong biasa.

Pengalaman di India merupakan contoh penting. Ibn Battuta tiba di Delhi pada masa Sultan Muhammad bin Tughluq dan memperoleh kedudukan sebagai hakim atau qadi. Pengalamannya memperlihatkan bagaimana pendidikan hukum Islam dapat menjadi modal sosial yang membantu seseorang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Keahlian keagamaan, kemampuan berkomunikasi, dan hubungan dengan patron politik membentuk peluang kariernya.

Namun, hubungan Ibn Battuta dengan dunia ilmuwan Islam perlu dipahami secara proporsional. Ia berinteraksi dengan banyak sarjana dan tokoh keagamaan, tetapi sumber biografis tidak mendukung anggapan bahwa ia merupakan pemikir sistematis yang setara dalam seluruh bidang dengan para filsuf atau ahli ilmu kalam terkemuka. Nilai utamanya terletak pada pengalaman lintas budaya, pengamatan sosial, mobilitas keilmuan, serta catatan tentang kehidupan masyarakat.

Dalam konteks ini, Ibn Battuta dapat dibandingkan dengan jaringan intelektual yang lebih luas pada zamannya. Ia hidup setelah masa kejayaan sejumlah ilmuwan besar, seperti Ibn Sina dan Al-Ghazali, serta pada periode ketika pemikiran sejarah Ibn Khaldun mulai berkembang menjelang akhir abad ke-14. Akan tetapi, tidak tepat menyimpulkan bahwa ia memiliki hubungan pribadi atau pertukaran intelektual langsung dengan semua tokoh tersebut.

Keterhubungan dunia Islam tidak selalu mensyaratkan pertemuan langsung antara semua ilmuwan. Pengetahuan juga beredar melalui manuskrip, institusi pendidikan, perjalanan haji, jaringan hukum Islam, perdagangan, dan tradisi pengajaran. Ibn Battuta merupakan salah satu pelaku mobilitas yang memperlihatkan bagaimana jaringan tersebut berfungsi dalam praktik.

Dari Maldives ke China: Islam sebagai Jaringan yang Bergerak

Pengalaman Ibn Battuta di Maldives memberikan gambaran menarik tentang hubungan antara agama, hukum, dan kekuasaan. Ia mengunjungi kepulauan tersebut pada 1340-an dan tinggal cukup lama untuk mengenal kehidupan politik, sosial, serta keagamaan masyarakat setempat.

Ibn Battuta melaporkan bahwa dirinya menduduki jabatan hakim. Pengalaman ini menunjukkan bahwa keahlian hukum Islam dapat menjadi sumber legitimasi bagi seorang pendatang di masyarakat Muslim yang memiliki kebutuhan terhadap tenaga ahli agama dan hukum. Ia juga mencatat adat istiadat, hubungan gender, kehidupan keluarga, dan praktik sosial masyarakat setempat. Catatan mengenai Maldives termasuk bagian penting Rihla karena sumber-sumber lain tentang masyarakat kepulauan itu pada periode tersebut relatif terbatas.

Dari perspektif sosiologi agama, pengalaman ini memperlihatkan bahwa Islam tidak berkembang hanya melalui dakwah atau penyebaran ajaran secara abstrak. Agama juga beroperasi melalui lembaga hukum, jabatan sosial, hubungan perkawinan, dan interaksi dengan struktur kekuasaan.

Namun, catatan Ibn Battuta tidak boleh dianggap sebagai gambaran netral dari seluruh kehidupan masyarakat Maldives. Ia menilai adat setempat berdasarkan latar belakang hukum dan moral yang dibawanya. Ketika pengamat menganggap praktik masyarakat lain berbeda dari norma yang dikenalnya, perbedaan tersebut sekaligus mengungkapkan pandangan pengamat itu sendiri.

Dari Tangier ke Eropa dan Asia: Seberapa Besar Kontribusi Ibn Battuta?

Kontribusi Ibn Battuta terhadap hubungan Islam dengan Eropa dan Asia perlu dilihat melalui dua hal yang berbeda: peran perjalanan historisnya dan pengaruh catatan perjalanannya terhadap pengetahuan generasi berikutnya.

Pada masa hidupnya, ia merupakan salah satu individu yang bergerak melintasi jaringan Afrika, Asia, dan kawasan Mediterania. Mobilitasnya memperlihatkan bahwa dunia Muslim abad pertengahan tidak terpisah dari masyarakat non-Muslim. Ia berinteraksi dengan berbagai penguasa dan komunitas, meskipun perjalanan itu tidak selalu berlangsung dalam situasi damai atau setara.

Di sisi lain, Rihla menyimpan deskripsi tentang tempat-tempat yang dikunjunginya, termasuk kehidupan sosial, hukum, perdagangan, dan praktik keagamaan. Catatan tersebut kemudian menjadi sumber penting bagi sejarawan yang meneliti masyarakat abad pertengahan. Sejumlah bagian bahkan memiliki nilai khusus karena minimnya sumber pembanding, seperti catatan tentang Maldives dan Mali.

Akan tetapi, kita perlu menghindari klaim berlebihan bahwa Ibn Battuta secara langsung menyebabkan penyebaran Islam di Eropa atau Asia. Islam telah hadir di berbagai wilayah sebelum kedatangannya. Di Asia Tenggara, misalnya, perkembangan komunitas Muslim berkaitan dengan perdagangan, migrasi, penguasa lokal, jaringan ulama, dan proses sosial yang berlangsung dalam rentang waktu panjang.

Demikian pula, perjalanan Ibn Battuta ke kawasan yang kini menjadi bagian dari Eropa tidak otomatis menjadikannya tokoh utama penyebaran Islam di benua tersebut. Kontribusinya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari sejarah mobilitas dan pertukaran dunia Afro-Eurasia.

Dalam konteks masa kini, nilai penting Ibn Battuta terletak pada kemampuannya mengingatkan kita bahwa sejarah Islam selalu melibatkan hubungan lintas batas. Eropa dan Asia bukan dua dunia yang sepenuhnya terpisah dari masyarakat Muslim. Keduanya terhubung melalui perdagangan, diplomasi, pengetahuan, migrasi, dan perjumpaan budaya yang memiliki sejarah panjang.

Warisan Ibn Battuta bagi Maroko Masa Kini

Masyarakat Maroko menganggap Ibn Battuta merupakan bagian penting dari warisan sejarah dan identitas budaya. Tangier bukan hanya tempat kelahirannya, tetapi juga titik awal kisah yang menghubungkan Afrika Utara dengan dunia yang jauh lebih luas.

Museum yang menampilkan peta perjalanannya memperlihatkan bagaimana masa lalu dihadirkan kepada pengunjung masa kini. Garis-garis perjalanan, angka durasi, dan jumlah negara yang dikunjungi menyederhanakan pengalaman yang kompleks menjadi narasi visual yang mudah dipahami. Namun, pameran tersebut juga membuka ruang untuk pertanyaan lebih dalam: apakah masyarakat masa kini mengenang Ibn Battuta hanya sebagai petualang, atau juga sebagai sumber refleksi tentang keterhubungan agama, masyarakat, dan budaya?

Pertanyaan tersebut relevan bagi hubungan Maroko dengan Indonesia. Keduanya memiliki sejarah panjang dalam dunia Islam, tetapi perkembangan tradisi keagamaan di masing-masing wilayah berlangsung melalui konteks sosial dan sejarah yang berbeda. Perjalanan Ibn Battuta ke Samudra Pasai dapat menjadi pintu masuk untuk membandingkan hubungan antara mobilitas Muslim, otoritas keagamaan, dan pertukaran budaya. Namun, kisahnya tidak boleh dijadikan bukti tunggal mengenai proses Islamisasi Nusantara.

Di tengah perkembangan teknologi digital, warisan Ibn Battuta juga mengajak kita mempertanyakan apakah kemudahan komunikasi modern benar-benar menghasilkan pemahaman antarbudaya yang lebih baik. Jika dahulu perjalanan panjang memaksa seseorang berhadapan langsung dengan lingkungan yang berbeda, sekarang informasi dapat diperoleh tanpa harus meninggalkan rumah. Akses memang semakin luas, tetapi pemahaman mendalam tetap membutuhkan keterbukaan, pengalaman, dan pembacaan kritis.

Kesimpulan: Perjalanan yang Masih Berbicara kepada Dunia

Ibn Battuta menghubungkan Tangier dengan berbagai kawasan Afrika, Eropa, dan Asia melalui perjalanan yang bermula dari ibadah haji dan berkembang menjadi penjelajahan panjang. Pengalamannya di Maldives, India, dan China memperlihatkan bagaimana agama, hukum, perdagangan, patronase, serta hubungan sosial memungkinkan manusia bergerak melintasi batas geografis.

Melalui pendekatan antropologi dan sejarah sosial yang sejalan dengan perhatian Léon Buskens terhadap hubungan antara Islam, institusi, dan masyarakat, Rihla dapat dibaca bukan sekadar sebagai cerita perjalanan, melainkan sebagai sumber untuk memahami kehidupan sosial dunia Islam abad pertengahan. Pada saat yang sama, kritik terhadap sumber mengingatkan kita bahwa tidak semua kisah dalam catatan tersebut dapat diterima tanpa verifikasi.

Foto peta perjalanan di museum Tangier memberikan pesan yang sederhana tetapi penting: dunia Islam sejak berabad-abad lalu telah memiliki sejarah keterhubungan yang luas. Warisan Ibn Battuta bukanlah klaim bahwa ia sendirian menyatukan tiga benua, melainkan bukti bahwa mobilitas manusia dan perjumpaan budaya merupakan bagian penting dari sejarah Islam.

Dari Tangier, kisah Ibn Battuta terus mengajukan pertanyaan bagi dunia kontemporer: bagaimana manusia yang berbeda bahasa, budaya, dan tradisi keagamaan dapat membangun hubungan tanpa harus kehilangan identitas masing-masing? Pertanyaan itu membuat perjalanan seorang pengelana abad ke-14 tetap relevan untuk memahami dunia yang saling terhubung pada abad ke-21.

Penulis : Try Riduwan Santoso (IAILM Suryalaya)

BAGIKAN: