Empat dekade perjalanan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) Suryalaya Tasikmalaya menjadi momentum penting untuk melihat dan merawat kembali warisan Syaikh KH A. Sohibul Wafa Tajul Arifin atau Pangersa Abah Anom. Kampus di Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya itu didirikan pada 1986 dan genap berusia 40 tahun pada Sabtu 5 September 2026, bertepatan dengan Hari Jadi Pondok Pesantren Suryalaya ke-121.

Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya, KH Ahmad Maksyur Firdaus Arifin, menyatakan bahwa keberadaan IAILM tidak terpisahkan dari cita-cita Abah Anom dalam mengembangkan pendidikan. Perjalanan empat dekade ini menjadi kesempatan untuk bermuhasabah sekaligus mempertegas arah perjuangan lembaga. “Dengan penuh gembira, kami Pimpinan Pondok Pesantren Suryalaya merasa senang dengan tasyakur Milad 40 tahun IAILM. Wabilkhusus menyambut baik terbitnya buku bunga rampai yang ditulis civitas akademika IAILM,” kata KH Ahmad Maksyur Firdaus Arifin, Jumat 4 September 2026.

Menurut Ahmad Maksyur, buku bunga rampai tersebut tidak hanya mencatat perjalanan empat dekade IAILM, tetapi juga menjadi upaya membaca pengabdian masa lalu sekaligus membentangkan jalan masa depan. Warisan Abah Anom dalam dunia pendidikan tidak cukup hanya dikenang sebagai sejarah, melainkan harus terus dikembangkan sesuai perubahan zaman, termasuk wawasan tasawuf dan Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang menjadi identitas IAILM. Pendidikan yang digagas Abah Anom tidak sekadar mengejar kecerdasan intelektual, melainkan juga membentuk manusia berkepribadian mulia dan berkedalaman spiritual. Konsep tersebut bermaksud melahirkan insan kamil atau manusia paripurna yang menggabungkan kekuatan ilmu dan kedalaman amal. “Pendidikan bukan sekadar berurusan dengan transfer ilmu, tapi lebih dari itu adalah gerak kebudayaan dalam rangka membentuk insan kamil, manusia paripurna cageur bageur,” tutur Ahmad Maksyur. Ia menambahkan, perpaduan antara rasionalitas perguruan tinggi dan akhlak kepesantrenan sangat krusial dalam menghadapi perubahan teknologi yang cepat.
Spiritualitas merupakan roh aktivitas pendidikan agar tidak melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi tumpul secara empati. Semangat baru Sementara itu, Rektor IAILM Suryalaya, Dr H Asep Salahudin, menegaskan bahwa usia 40 tahun menjadi penanda kematangan sekaligus momentum memperkuat cita-cita pendiri. IAILM harus memiliki semangat baru untuk mendongkrak kualitas tata kelola akademik dan kuantitas mahasiswa. “Kampus juga harus maju, baik dari sisi kuantitas mahasiswa ataupun dari sisi kualitas tata kelola akademik. Jadi sehat secara kuantitas dan kualitas juga,” kata Asep di Kantor Pascasarjana IAILM Suryalaya.
Saat ini, IAILM mengelola tiga fakultas, yakni Fakultas Syariah, Fakultas Dakwah, dan Fakultas Tarbiyah, serta Program Pascasarjana. Mahasiswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara seperti Malaysia dan Singapura. Asep menilai tantangan perguruan tinggi saat ini memang semakin berat, namun hal itu harus dijadikan peluang untuk melepaskan imajinasi masa depan. Dalam literatur Islam maupun psikologi, usia 40 tahun melambangkan fase kematangan dan tonggak sejarah yang penting. Sufisme digital Memperingati milad ke-40, IAILM menggelar beragam kegiatan, seperti reuni akbar alumni angkatan 1986, peluncuran dan bedah buku bunga rampai berjudul Merawat Zaman Merawat Iman, konser musik, turnamen olahraga voli dan bulu tangkis, workshop entrepreneurship, hingga santunan anak yatim.
Selain itu, IAILM mengadakan seminar internasional mengenai digital sufisme yang membahas perkembangan spiritualitas Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di tengah arus transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence). “Sufisme digital memasuki ruang-ruang virtual. Spiritualisme Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang menjadi pembeda dari kampus ini ketika bersentuhan dengan ruang-ruang digital. Kita perlu melakukan penyesuaian rumusan tasawuf di tengah kehidupan dan perkembangan dunia yang begitu cepat berubah,” ujar Asep.

Puncak peringatan Milad ke-40 IAILM Suryalaya ditandai dengan sidang senat terbuka. Agenda ini menjadi penegasan bahwa perjalanan empat dekade kampus bukan akhir sejarah, melainkan awal untuk melanjutkan kontribusi bagi kemaslahatan publik. Asep berharap IAILM mampu mencetak sumber daya manusia yang visioner, inklusif, serta sehat lahir dan batin, di mana ilmu menjadi pandu bagi amal dan tindakan nyata di masyarakat.***
Sumber Artikel berjudul “IAILM Suryalaya Rayakan Milad Ke-40 Tahun”, selengkapnya dengan link: https://koran.pikiran-rakyat.com/news/pr-30310432651/iailm-suryalaya-rayakan-milad-ke-40-tahun?utm_source=social_link&utm_medium=social_link


