Pilgub ditangan Pemilih Muda

Latifah Mubarokiyah

Pilgub ditangan Pemilih Muda

May 5, 2018 event 0

TASIK – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Jawa Barat mencatat persentase pemilih muda, generasi Z dan milenial yang berusia 17-40 tahun sekitar 60 persen dari jumlah daftar pemilih tetap. Totalnya 17 juta dari 31,7 juta data calon pemilih.

Suara dari kalangan generasi Z dan milenial berpotensi mendongkrak tingkat partisipasi masyarakat di hajatan demokrasi lima tahunan ini. Catatannya, itu apabila mereka turut serta menyalurkan hak pilihnya pada Pilgub Jabar 27 Juni 2018.

Divisi Perencanaan dan Data KPU Jawa Barat Ferdhiman P Bariguna menjelaskan apabila pihaknya berhasil menggerakkan kalangan pemilih muda (generasi Z dan milenial) menyalurkan hak pilihnya, peluang mengejar target partisipasi di atas 75 persen sesuai arahan nasional bisa tercapai.

[Lihat Hasil Voting]
“Kami optimis. Mengingat dari generasi Z sendiri selama ini tingkat partisipasinya selalu 90 persen. Sementara yang milenial justru agak malas. Lantaran sudah berpengalaman nyoblos. Kita harus ajak lagi untuk salurkan hak pilih,” paparnya usai memberikan materi pada Electainment on Campus – Rock The Vote Indonesia di Aula Sukrita Bakti Kampus Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IALM) Ponpes Suryalaya Tasikmalaya, Rabu (2/5). Diskusi kepemiluan itu dipandu dua moderator: Dr M Kodir MSi dan Dr H Jamaludin MAg.

Menurutnya, KPU Provinsi Jawa Barat menargetkan partisipasi pemilih di Pilgub 2018 harus melebihi Pileg lalu yakni 70 persen. Sehingga memerlukan peran serta semua pihak untuk menggerakkan masyarakat memahami pentingnya pemilihan dan datang ke TPS atas dasar kesadaran tanpa diimingi kepentingan. “Kita sadari generasi milenial dan Z paham teknologi dan informasi. Tentunya tidak Cuma kuantitas, kualitas pemilihnya juga akan meningkat,” ungkapnya.

Presiden Direktur dan Center For Election and Political Party (CEPP) Universitas Indonesia (UI) Reni Suwarso PhD, yang juga menjadi pemateri, melihat kondisi tren anak muda, baik Indonesia maupun internasional cenderung pragmatis dan apatis terhadap politik maupun pemilu. Paradigma yang tertanam di kalangan muda itu harus dihindari. “Mengingat sejak 1998 Indonesia isinya pemilu semua, seolah isinya politik, demokratis itu hanya pemilu. Padahal pemilu itu suatu tahapan memilih pemimpin,” jelasnya.

Justru, kata dia, politik lebih luas yakni setelah tahapan pemilu itu sendiri. Namun, pihaknya tidak menyalahkan pemahaman generasi muda. Karena, para praktisi dan elite politik hari ini terkesan menunjukkan atau menggiring pemahaman kalangan muda untuk memandang politik merupakan sesuatu yang perlu dihindari.

Dia menganalisa saat ini paradigma dalam politik perlu diubah dari power over (menguasai) menjadi power to do (melakukan sesuatu). “Paradigma lama dan dilaksanakan elite politik hari ini power over, menguasai APBD, APBN, kebijakan, ideologi. Sudah jadi dewan, wali, bupati atau gubernur yang penting kelompoknya menang,” rincinya.

Seharusnya, kata Reni, pemahaman mengenai esensi pemilihan haruslah power to do. Kekuasaan digunakan untuk melakukan sesuatu bagi kepentingan rakyat. Sehingga ketika terpilih pejabat daerah, harus membagikan APBD melalui serangkaian program untuk menyejahterakan masyarakat. Maka dari itu, kata dia, generasi muda hari ini perlu disiapkan menjelang 100 tahun Indonesia yakni 2045. Di mana mindset para penerus bangsa tentang politik diarahkan kepada makna politik sesungguhnya. Pihaknya optimis dilandasi gerakan Rock The Vote Indonesia, mampu menyiapkan generasi penerus yang masih memiliki idealisme, mengingat gerakan itu berangkat dari kampus yang notabene dihuni anak muda. “Di Amerika kondisi kayak gini tahun 1970-1980. Australia 1920-an. Sekarang mereka sudah lewat fasenya. Minimal kita berupaya menanamkan optimisme dengan bergerak, menyiapkan para generasi ke depan. Bisa dibayangkan kawula muda tanpa idealisme dan pikiran positif negara nanti mau bagaimana,” bebernya.

Pimpinan Redaksi Harian Pagi Radar Tasikmalaya Usep Saeffulloh menegaskan salah satu peran serta kaum muda dalam politik saat ini yaitu menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin Jabar. Terlebih, saat ini pemilih muda terbilang berpengaruh dalam menentukan nasib Jawa Barat 5 tahun ke depan. Jumlah potensi pemilih muda (berusia 17-40) di angka 17 juta.

“Bentuk ikhtiar kaum muda dalam politik saat ini yaitu memilih calon pimpinan Jawa Barat pada 27 Juni mendatang,” tegasnya dalam diskusi Electainment on Campus – Rock The Vote Indonesia.

Rektor IAILM Tasikmalaya H Iwan R Prawiranata MIB MA PhD memaparkan pentingnya peran masyarakat dalam memilih calon pimpinan supaya tercapainya tujuan bernegara. Sebagai rakyat yang berdomisili di Jawa Barat upaya untuk mencapai tujuan adil, makmur dan sejahtera itu harus memilih pimpinan yang mampu mengantarkan cita-cita tersebut lewat sarana pilkada dengan sistem demokrasi yang selama ini berjalan.

“Partisipasi kita inti dari demokrasi. Maka hak pilih penting digunakan sebagai warga negara, ikut serta dalam pemerintahan baik menjabat langsung ataupun dalam partisipasi salah satunya menyalurkan hak suara,” ungkapnya saat membuka rangkaian kegiatan.

Untuk itu, dia meminta momentum pesta demokrasi Jawa Barat dimanfaatkan sebaik mungkin. Dalam menentukan siapa yang akan dipercayai menjadi pemimpin dalam mewujudkan cita-cita adil makmur dan sejahtera. “Pemilih pemula diharapkan dapat turut serta menyalurkan hak pilihnya dalam menentukan pimpinan lima tahun mendatang,” ajaknya.

Ketua Pelaksana Electainment on Campus – Rock The Vote Indonesia Solihin MPd menjelaskan kegiatan sosialisasi terhadap pemilih pemula terkait edukasi politik dan pentingnya perhelatan demokrasi itu, merupakan kerja bersama antara IAILM Tasikmalaya dengan KPU jabar dan Center For Election and Political Party (CEPP) FISIP UI dalam rangka menyukseskan Pilgub yang akan berlangsung 27 Juni 2018. Pihaknya mengundang sekitar 15 sekolah dari Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya Utara, kemudian 7 perguruan tinggi se-Priangan Timur.

“Kita ketahui perguruan tinggi kita dari sekian yang ada di Priangan Timur terpilih menyelenggarakan kegiatan ini. Perguruan tinggi Islam hanya 3 salah satunya IAILM, bukti kita berturut-turut sebagai perguruan tinggi teladan,” terangnya. (igi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *